Mengenai Saya

Foto saya
Aziz - Born in 1991, I'm now taking my undergraduate in Gadjah Mada University, Yogyakarta on Chemical Engineering Department. Thanks for visiting my blog. Hope you enjoy it like enjoying a piece of apple pie. You'll love my blog, I promise :)hehee

Sugeng Rawuh

Welcome to the journey...

Search It...!!!

Minggu, 03 Juli 2011

Terkungkung Kata Orang


Saat ini, tepat detik ini ku merasakan seluruh jiwaku melayang. Dia menjerit protes terhadapku. Dia menginginkan Aku seperti dulu. Menginginkan Aku yang kata orang mendekati sempurna. Yang kata orang adalah idaman. Yang kata orang selalu berujung dengna kebaikan. Yang kata orang, itulah kata orang. Ku terjerumus ke dalam kubangan keleluasaan hingga tak sanggup bangun (lagi) untuk beberapa saat. Namun, jari-jemari tangan dan kakiku terasa lemas tak bernyawa. Lunglai hingga hamper tak bisa digerakkan. Membuat diri ini semakin tenggelam dalam kubangan kenistaan. Ini bukan kegalauan biasa, tapi sudah masuk categori extraordinary.
Tetapi, biarlah ku salami sederetan kegagalanku di decade ini. Aku terlalu polos untuk hal-hal yang sifatnya merusak masa depanku. Aku terlalu lugu untuk sebuah kata yang sangat takut untuk diucapkan, apalagi dalami. KEGAGALAN. Cukup singkat dan tidak perlu usaha yang besar untuk mengatakannya, pun demikian untuk mewujudkannya.
Melalui momentum awal bulan ini, semangat dan harapanku terpancing kembali. Semoga umpan ini tidak hanya ada di awal bulan, tetapi juga tetap bertahan hingga akhir nanti. Bukan akhir bulan, tetapi akhir masa pengabdian dan persinggahan sementaraku di pelabuhan dunia fana ini.



Melalui momentum awal bulan ini pula Aku mulai mencanangkan beberapa PROYEK BESAR terkait target personal yang belum tercapai pada masa-masa sebelumnya. Saya harus cepat! KArena sang waktu tisak mengenal instirahat, apalagi kompromi! Uang tidak berlaku dan sama sekali tidak diminati oleh sang waktu di dunia ini. Akselerasi dalam segala hal adalah kunci utama untuk mengejar ketertinggalan sekaligus untuk menjadi yang terdepan, dalam apapun. Semoga masih dikaruniani semangat dan kerja keras oleh Allah ala wa zalla.

Ruang Baca Tekkim, 2 Juli 2011 pukul 14.00 WIB, sambil mendengarkan instrument Hevia

Senin, 02 Mei 2011

Tunggu aku

Menyelami indahnya dunia..

Terasa ada di surga..

Yang meskipun belum pernah kesana..

Tuhan...

Terima kasih...

Terima kasih...

Terima kasih...

Kau telah memberikan nafas...

Kau telah memberikan hidup...

Hari-hari kian menebarkan...Terlebih

Tuhan...

Aku malu pada-Mu...

Aku merasa tak mampu...Menikmati segala anugrah

Tuhan..

Jika telah sampai saatku...

Ku harap rahmat-Mu ini masih menyapaku...

Tuhan...

Tunggu..

Tunggu...

Tunggu Aku...Tunggu sampai Aku bisa membuat senyum ibuku.. Bapakku...

Baru ambillah Aku untuk bertemu dengan-Mu...

Tuhan...

Hilangkan lelah ini...

Buanglah rasa jenuh ini...

Biar ku bisa terus mengabdi...

Hinggal sang waktu lelah menanti...

Dan membawaku pergi...

Minggu, 24 April 2011

Kebebasan

Ketika sang malam mulai datang

Lantas...Apa yang akan manusia lakukan?!

Ketika hati tak lagi bersih

Lantas...Apa yang akan manusia lakukan?!

Ketika dinginnya kegelapan mulai menyeruak

Lantas...Apa yang akan manusia lakukan?!



Ungkapan-ungkapan sampah ini tak lagi terdengar

Jeritan-jeritan hedonisme kian santer terdengar

Tak ada lagi penghalang antara kau, aku, dan dia

Tak ada lagi pengingat

Tak ada lagi pengontrol

Kebebasan

Apalah arti kebebasan?

Apakah itu yang dinamakan kebebasan?

Sabtu, 09 April 2011

Menjawab Pertanyaan Perspektif..


Suatu pagi. Aku terpergok oleh sang matahari masih tertidur lelap dalam kasur empuk asrama. Setelah Aku lihat,,teeet..pukul 03.45 pagi. Aduh, segera ku berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan segera melakukan sholat malam secepat kilat;tidak seperti biasanya. Selepas sholat entah mengapa dalam hati ini bergumul segala perasaan yang tidak keruan. Mulai perasaan syukur masih dibangunkan oleh Allah, sedih karena mengalami beberapa kejadian yang cukup memilukan belakangan ini, sampai perasaan kecewa karena sering bangun telat (mepet waktu shubuh.
Well, semua ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berarti. Begitu kataku dalam hari guna membangkitkan semangat positivisme dalam memulai hidup. Terlepas dari apa yang terjadi pagi itu, lantas aku menyeruak masuk ke dalam dunia khayalan; sebuah dimensi yang sungguh sangat aku gemari dan berharap tinggal di sana selamanya. Layaknya lingkup dunia nano yang tidak terpengaruh oleh Hukum-hukum Fisika,baik Hukum Fisika Klasik mamupun Kuantum; Aku benar-benar ingin menjadi seorang yang memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan segala apa yang Aku inginkan. Menikmati sega hal tanpa ada batasan-batasan faktual yang terkadang bisa membunuh kreativitas dan inovasi; yang bisa mematahkan tonggak semangat yang runcing, dan bisa menghancurkan susunan bangunan mimpi yang secara perlahan mulai terealisasi.
Egoisme merupakan sebuah ekspresi kekesalan diri terhadap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan; sebuah bentuk reaksi atas "ketidakadilan" yang dirasakan oleh diri pribadi. Siapapun tentu mempunyai ego, hanya yang membedakan adalah seberapa besar ego tersebut mampu mempengaruhinya di kala mencapa keadaan "klimaks". Ada orang yang sangat sabar dan bahkan sepertinya rasa ego itu tidak ada dalam diri mereka, namun ada juga yang egonya tinggi dan sangat mudah sekali muncul bahkan hanya karena masalah - masalah yang sangat sepele. Semua mengandung konsekuensi logis masing-masing. Terkadang, konteks kedewasaan diri sering dikaitkan dengan manajemen diri, dalam hal ini ego juga bisa terlibat. Seseorang yang sering menggunakan egonya, atau dengan bahasa yang lebih lembut, seseorang yang memiliki tingkat emosional tinggi cenderung memiliki tingkat kedewasaan yang rendah, belum mapan secara pribadi. Sementara mereka yang lebih endurance, lebih sabar dalam menghadapi sesuatu, dikatakan memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi, begitu hampir semua orang menilai. Namun, sadar atau tidak, egoisme tidak bisa dikorelasikan secara mutlak terhadap kedewasaan. Hal ini karena ogisme dan kedewasaan memiliki porsi masing - masing dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya merupakan irisan (bukan gabungan). Jadi, tidak langsung kita bisa mengkalim orang yang egonya tinggi adalah orang yang tidak dewasa, dan begitu juga sebaliknya, orang yang sangat sabar dalam menghadapi suatu masalah bisa dikategorikan sebagai suatu kedewasaan. Ingat bahwa, kedewasaan itu relatif, dan membutuhkan proses yang sangat panjang untuk menumbuhkembangkannya. Tidak serta merta terbentuk dengan sendirinya, tetapi dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan tempat dia berinteraksi dan berkarya. Sementara ego lebih atas dasr genetik dan merupakan sifat dasar yang setiap manusia tidak sama kadarnya. PErnah terfikir olehku untuk mengeneralisasikan dua hal tersebut, mencari persamaan dan perbedaannya, memang secara sekilas keduanya merupan suatu kontradiksi, namun sekali lagi kita tidak bisa melihat dua hal tersebut sebagai sebuah hal yang saling menegasikan. Marilah berfikir secara substansial dan holistik, bahwa tidak semua apa yang ada di dunia ini semudah dan se-simple apa yang kita bayangkan, bahkan jauh dari itu, setiap partikel debu mengandung makna yang sangat luas, memiliki pengertian dan definisi yang hampir tiada batas,sesuai dengan persepektif yang kita gunakan. Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa berfikir secara open minded, holistik, dan substansial adalah kunci dari tercapainya pemahaman kita dalam melihat setiap detail kehidupan ini. Bagaimana kita bisa menyimpulkan secara tepat tentang masalah-masalah dan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita dan semoga kita bisa menjadi lebih bijak dalam menjalani lembaran hidup ini. Amin.

Sabtu, 05 Februari 2011

Refleksi Pelaksanaan Career Days VIII UGM 2011


Fancy February fidely...
Itu adalah ungkapan kalimat yang tepat dalam menyambut rangkaian acara Career Days VIII UGM 2011 yang berlangsung di Grha Saba Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Sabtu-Minggu, 5-6 Februari 2011. Acara yang digelar sebanyak dua kali dalam setahun itu diadakan oleh ECC (Engeenering Career Center), sebuah instuti bentukan beberapa alumni Fakultas Teknik UGM.
Acara yang diikuti oleh 60 lebih perusahaan nasional maupun multinasional tersebut memang terlihat cukup padat pengunjung (baca:job seeker). Hal ini terlihat dari data statistik bahwa di hari pertama pelaksanaan, jumlah job seeker yang memadati Auditorium UGM ini mencapai angka 15000 orang. Sebuah angka fantastik sekaligus sangat miris. Di satu sisi angka yang luar biasa tersebut merupakan sebuah prestasi besar bahwa ECC mampu menjadi fasilitator yang handal dan terpercaya. Namun, di sisi lain itu merupakan sebuah fakta yang sangat menyedihkan mengingat dari kesemua pelamar, tidak lebih dari 10 % dari mereka yang beruntung pulang dengan identitas sebagai pegawai dari suatu perusahaan. Banyaknya pelamar ini membuka mata kita bahwa ternyata banyak sekali para lulusan dari perguruan tinggi yang masih berstatus belum bekerja. Nah, suatu misal jika kita ambil secara kasar, dari 15.000 orang pelamar tersebut yang diterima sebanyak 1500 orang (10%, maka akan kemanakah 13.500 pelamar yang lain? Yang jelas,mereka akan tetap berusaha mencari pekerjaan yang pas bagi mereka, namun durasi mereka mendapatkan pekerjaan berbeda-beda antar masing-masing orang. Ada yang sebulan kemudian memperoleh pekerjaan, ada yang 6 bulan kemudian, setahun kemudian, bahkan ada yang tidak mendapatkan pekerjaan selama bertahun-tahun. Hal inilah yang seharusnya kita pikirkan bahwa pengangguran di negeri ini bukanlah masalah yang simpel, melainkan merupakan salah satu permasalahan besar dari bangsa ini dan butuh penyelesaian secepatnya.
Spesifikasi yang tinggi dari perusahaan sebagai akibat dari kebutuhan dari perusahaan di samping banyaknya jumlah pelamar yang mempunyai kemampuan yang sama atau hampir sama serta rendahnya kemampuan softskill yang dimiliki oleh pelamar berujung pada banyaknya pelamar yang akhirnya harus gigit jari setelah mengetahui informasi bahwa mereka belum diterima di perusahaan yang mereka idam-idamkan tersebut.
Belajar dari pengalaman pada acara Career Days tersebut, ada hal penting yang patut menjadi catatan bahwa saat ini jumlah lulusan (fresh graduate) dari perguruan tinggi di negeri ini luar biasa banyaknya sementara lowongan pekerjaan yang tersedia tidak bisa mengakomodir mereka semua. Oleh karena itu, selain kemampuan akademik, yang sangat diperlukan adalah kemampuan softskill yang mumpuni karena saat ini kedua hal tersebut memegang peranan yang sama-sama penting. Kemampuan softskill tersebut dapat diperoleh dari pengalaman mengikuti berbagai macam organisasi selama kuliah, baik tingkat jurusan, fakultas, universitas hingga tingkat nasional. Namun, hal tersebut tetap tidak akan mampu menjawab permasalahan banyaknya pengangguran di Indonesia, sehingga diperlukan cara lain yang lebih efektif dan strategis. Salah satu cara tersebut adalah mengubah mindset kita bahwa saat ini yang sangat diperlukan oleh bangsa ini adalah generasi yang mampu memecahkan masalah, sesuai dengan fungsi dari mahasiswa , salah satunya yaitu sebagai problem solver atau seorang yang mampu memfungsikan dirinya sebagai penyelesai dari suatu permasalahan. Dengan adanya pola pikir semacam ini, maka para mahasiswa semasa kuliahnya akan belajar berfikir out of the box dalam menghadapi permasalahan pelik semaam ini. Generasi yang mampu berfikir out of the box semacam inilah yang dibutuhkan bangsa ini pada saat-saat sekarang ini. bukan generasi yang cerdas secara intelektual namun miskin dalam hal kontribusi.
Oleh karena itulah, harapan ke depan akan semakin banyak para lulusan- lulusan dari perguruan tinggi yang merintis dan mengembangkan usaha sendiri sehingga mereka tidak lagi berdesak-desakan dalam antrian panjang dan menunggu pengumuman dari perusahaan dengan perasaan "dag dig dug", melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Apabila banyak lulusan yang bisa berwirausaha secara mandiri semacam ini, dapat dipastikan bahwa permasalahan pengangguran yang selama ini menggelayuti akan dapat berkurang. Untuk itulah, sangat diperlukan usaha dan kerjasama dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan perguruan tinggi untuk membantu mempercepat terwujudnya hal tersebut melalui berbagai langkah seperti dalam bentuk bantuan modal maupun program-program pelatihan maupun seminar-seminar. Terkahir, namun bukan yang paling akhir, semua usaha yang kita lakukan haruslah diniatkan semata-semata karena mengharap ridho dari Allah SWT sehingga dengan begitu langkah kita dalam upaya mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat akan akan semakin mantap. Selamat berkarya dan salam kontribusi!

Jumat, 26 Februari 2010

SEKELUMIT BUMBU PAGI By: Sang Pemimpi

Pagi ini ku awali hariku dengan semangatbaru.seperti biasa,agenda mulai ku tata untuk hari ini. Yah... menikmati liburan di kampung halaman serasa kembalimenapaki indahnya liku-liku kehidupan pada itu. Target demi target sudah ku tulis, hanya menunggu langkah untuk mewujudkannya.
Kini hidupku mulai sedikit berubah. Jauh dari orang tua membuatku harus bisa hidup mandiri dan mengerti makna hidup ini. Perjalanan ke depan masih teramat panjang untuk dilalui, masih teramat berat untuk dirasakan, dan juga masih terasa getir untuk dibayangkan.

Memimpikan sesuatu adalah hobiku. Entah darimana ku mendapatkan hobi itu, namun yang pastiadalah setiap hari dan setiap malam selalu saja ada hal – hal yang membuatku mlayang terbang tinggi melampaui batas tertinggi kesadaran & logika manusia. Dalam pikiranku, selalu tertanam motto “ hidup berawal dari mimpi”; dan melalui mimpilah Aku bisa menjadi seperti ini. Hidup dalam kesederhanaan yang nyaman, berjuang tanpa mengenal lelah demi megnejar masa depan yang lebih cerah.
Kini, hatiku berdetak makin kencang. Dadaku seakan tak kuasa lagi menahan kerasnya gempuran hati. Ku rasakan ketakutan dan kekhawatiran yang kian memuncak menjelang masa – masa pengumuman hasil ujian semester. Ku merasa tidak akan mendapatkan hasil cumlaude semester ini,namun ku harus optimis bahwa Aku pasti bisa mendapatkannya. Aku harus membuat orang tua dan semua orang yang membantu dan mendoakanku selama ini bisa tersebyum bangga dengan keberhasilanku yang tentu saja hal itu akan semakin memompa semagnatku untuk terus berprestasi di kancah yang lebih luas lagi. Amien. Lagipula, dalam hatiku terbersitm rasa keyakinan yang begitu besar dan dalam akan kuasa Allah Azza Wajalla bahwa Dia tidak akan membiarkan hamba – Nya yang bertakwa sendirian dalamkesedihan,Dia akan memberikan kenyamanan dan perlindungan dari musuh – musuh – Nya, baik yang terlihat maupun tidak. Semoga Allah meridhoi niatku. Amien,,,,,,
Di Meja Komputer, Ruang Keluarga Pak Catur BWI, 31 Januari 2010 pkl 06.33
Lanjut lagi,,,,,

G tau karang jam berapa yang jelas setelah menempuh perjalanan panjang menyusuri jejalanan Banyuwangi dan sekitarnya hingga Muncar dan berakhir di Pesanggaran membuat tubuhku seakan ingin lepas (to be continued...)

Suasana Klasik itu....


Alhamdulillah, akhirnya sampai juga Aku di Jogja, kota perantauan tercinta. Dengan senyum bahagia ku melangkahkan kaki kembali menapaki lembar demi lembar kehidupan di kota pelajar. Terlebih setiba di pondok, sambutan yang luar biasa dan penuh kekeluargaan sangat ku rasakan dari teman – teman menambah lengkapnya perjalanan hidupku yang sungguh menakjubkan. Yah… inilah hidupku. Berjuang demi meraih cita – cita bersama dengan orang – orang hebat dari pelosok negeri, ku merasa bangga. Di tanah inilah ku bisa benar – benar merasakan perjuangan yang sesungguhnya dan menikmati indahnya kebersamaan dalam kesederhanaan.
Tepat pukul 22.40 WIB, kereta api Sritanjung Jurusan Banyuwangi – Jogja bersandar di tepi peron Stasiun Lempuyangan Jogja. Aku pun segera turun dari kereta setelah sesaat sebelumnya sedikit kecewa karena mimpiku terpaksa terhenti gara – gara dibangunkan secara ;paksa’ oleh petugas kereta api. Meskipun begitu, Aku pun masih sempat bersyukur, ku berfikir bagaimana jika tidak ada yang membangunkan Aku, tentu Aku akan tertidur pulas di kereta dan tidak bangun – bangun kereta api telah terkunci rapat menanti matahari muncul di tepi langit sebelah timur untuk melanjutkan rutinitasnya sehari – hari.
Segera ku menelepon salah seorang temanku yang juga teman sekamar di pondok agar menjemputku. Sambil menanti kedatangan temanku, ku duduk di tepi stasiun bagian depan sambil sesekali menolak dengan halus tawaran tukang ojek yang mencoba menawarkan jasanya. Sesaat ku memutar bola mataku untuk menikmati suasana malam di kota gudeg ini. Namun, entah mulai kapan, kedua bola mataku seakan tidak bisa bergerak kea rah lain ketika ku mengarahkan pandanganku kea rah dalam stasiun, di mana tepat ada seorang perempuan yang putih nan cantik turun dari kereta api yang baru saja datang dari arah barat. Setelah selang beberapa saat, petugas stasiun mengumumkan bahwa kereta yang baru datang tersebut adalah kereta kereta api Mutiara Malam Baru yang berasal dari Jakarta dan berakhir di Jember. Aku pun berfikir bahwa cewek cantik yang umurnya kurang lebih sebaya dengan umurku itu berasal dari Jakarta atau wilayah Jawa bagian Barat. Wajahnya yang sangat elok dan kulitnya yang bersih terawat menandakan bahwa ia adalah anak orang berada. Angan – anganku kembali melayang; kebiasaanku membayangkan sesuatu yang tidak mungkin tiba – tiba terangsang. Bagaimana jika dia adalah pacarku, tentu Aku akan menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk melihat dan mengagumi keelokan parasnya. Tiba – tiba khayalanku lenyap seketika ketika seseorang yang juga sedang duduk di sampingku mengajak ngobrol. Spontan pandangan ku alihkan ke arah seorang perempuan paruh baya tersebut dan sedikit membicarakan sesuatu yang menurutku tidak terlalu penting. Mungkin dia ingin mengusir kebosanannya gara – gara terlalu lama menunggu orang yang hendak dijemputnya. Setelah selang beberapa saat, ku coba menoleh ke belakang di mana gadis tadi berada. Sayangnya, dia sudah lenyap entah kemana. Meskipun bola mataku berputar 360 derajat mengelillingi area stasiun, tetap saja tidak bisa ku temukan sang gadis idamanku itu. Bukan jodohku untuk bertemu dan mengenalnya, pikirku dalam hati dengan perasaan sedikit kecewa. Tak lama kemudian ku segera berdiri sambil menenteng tas bawaan karena temanku telah datang menjemputku setelah sebelumnya berpamitan kepada perempuan paruh baya tadi. Setelah bersalaman, ku segera bonceng di belakang dan kami pun meninggalkan stasiun sambil kedua bola mataku tiada henti ‘melacak’ kemana gadis cantik tadi pergi. Namun, hingga jauh dari stasiun tak juga dapat ku temukan, hingga akhirnya ku berfikir bahwa mungkin dia telah dijemput oleh orang teman, saudara atau bahkan pacarnya dan meninggalkan stasiun tanpa sepengetahuanku. Tak bisa ku ku sembunyikan rasa kecewaku sambil sesekali mengumpat diri sendiri dalam hati. Kenapa tadi tidak memberanikan diri berkenalan, kemudian mengajak ngobrol, dan meminta nomor handphone. Entah berapa lama ku bergulat dengan pikiranku sendiri hingga akhirnya temanku mengajak Aku ngobrol ringan sambil menerobos dinginnya angin malam di kota gudeg tercinta.
Di kamar pondok, dekat jendela,01.48 WIB, 4 Februari 2010